“MAAF DARI SURGA”
Karya : Maulana Rieza
Tasaufi, Amd.
Ini adalah sebuah kisah fiktif kasih
sayang Ayah dengan anak perempuannya yang dipersembahkan untuk masyarakat
Indonesia. Kisah ini bertujuan untuk menilai seberapa jauh rasa patuh seorang
anak untuk orang tua nya dalam hal ini adalah seorang Ayah. Selain seorang Ibu
yang melahirkan kita, hmm tentunya kita tidak bisa melewatkan sosok yang satu
ini sosok penting bagi hidup kita yaitu seorang Ayah.
Dalam cerita kali ini saya akan
menceritakan tentang seorang Kepala Keluarga yang memiliki kekurangan dalam
fisiknya ( tunawicara ) yang berusaha melatih kesabaran untuk menghidupi anak dan
Isterinya. Beliau berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan ditemani oleh
Isterinya yang berjualan dipasar. Beliau selalu bersyukur karena bisa memiliki
Istri yang menyayangi dan ikhlas menerima apapun kekurangannya.
Tahun ke tahun mereka berdua jalani
dengan susah maupun senang. Walaupun tetangganya sering memandang mereka
sebelah mata, namun mereka hanya menganggap bahwa itu adalah sebuah motivasi
tersendiri bagi mereka untuk menjadi orang yang lebih baik lagi kedepannya.
Sampai pada akhirnya mereka berdua dikaruniai seorang anak perempuan bernama
Rina. Semenjak itu mereka berdua membagi tugasnya. Sang Ibu merawat Rina dan
sementara sang Ayah di Pasar untuk berjualan.
Rina yang beranjak dewasa kini sangat
akrab dengan Ibunya, namun tidak untuk Ayahnya Karena beliau harus berjualan di
pasar untuk menghidupi keluarganya. Hal ini sangat wajar karena ia diasuh dan
dibesarkan oleh Ibunya semenjak ia masih kecil.
Segala sesuatu kebutuhannya ia hanya
bercerita kepada Ibunya, baik dari kebutuhan rumah sampai kebutuhan sekolahnya.
Dalam hal ini Ibunya terlalu memanjakan Rina. Segala sesuatu yang Rina inginkan
pasti dituruti Ibunya, bahkan sampai harus berkorban untuk meminjam uang tetangga
tanpa sepengetahuan Rina dan Suaminya, mengingat mereka berdua adalah keluarga
yang paspasan tentunya hal ini sangat berlebihan menurut pendapatku. Hal ini
tak lepas karena Rina adalah anak semata wayangnya.
Melihat keakraban Rina dengan
Ibunya. Sang Ayah sangat senang sekaligus iri pada mereka berdua. Karena beliau
tidak bisa dekat dengan puterinya. Akan tetapi demi menjalin hubungan yang
harmonis beliau berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Rina. Namun usahanya
kurang direspon karena Rina malu jika sampai diketahui oleh teman-temannya bahwa Ayahnya adalah penyandang tunawicara. Ini adalah faktor traumatik bagi
Rina karena semasa kecilnya ia sering diolok-olok oleh temanya karena Ayahnya
adalah seorang yang memiliki kekurangan ( tunawicara ). Bahkan berbicara
dengannya, mungkin berpaspasan didepan umum saja Rina sangat malu. Oleh latar
belakang itu Rina melarang Ayahnya untuk bertemu didepan umum dengannya.
Tahun demi tahun
mereka lewati dan tak terasa Rina kini sudah memasuki Sekolah Menengah Pertama.
Dihadapan teman-temannya, ia selalu menutupi bahwa Ayahnya adalah seorang
tunawicara. Hal itu dilakukannya agar ia tidak dijauhi dan diolok-olok oleh
temannya. Sampai pada suatu hari Ibunya pergi meninggalkan Rina. Hal itu
membuat Rina dan Ayahnya merasa sangat terpukul. Dan ini menjadi PR besar buat Sang
Ayah untuk bisa menenangkan Rina.
Hari ke hari, minggu ke minggu mereka
berdua lalui akan tetapi Rina masih belum menerima kematian Ibunya tersebut,
mengingat Ibunya adalah orang yang selalu memanjakannya. Sang Ayah yang melihat
Rina sangat sangat tepukul karena kematian Ibunya kini mencoba untuk
memanjakannya seperti yang dilakukan Ibunya terhadap Rina. Usaha demi usaha
beliau jalani tetapi itu tidak membawa kabar baik untuk hubungan antara beliau
dan Rina. Sampai pada akhirnya beliau tidak berjualan dipasar demi menjemput
puteri kesayangannya ke Sekolah. Tetapi Rina mengacuhkan usaha Ayahnya yang
rela menjemputnya sepulang Sekolah. Hal ini dilakukan karena Rina tidak ingin
teman-temannya mengetahui bahwa Ayahnya adalah seorang tunawicara.
Pada saat dirumah sepulangnya dari
sekolah Rina memarahi Ayahnya agar tidak menemuinya saat ia berada di tempat
umum karena ia malu jika teman-teman akan mengejeknya nanti.
“Ayah ini melakukan apaaa !!? Ayah
mau buat Rina malu !!! “.
“Mulaii sekarang Ayah ga perlu lagi jemput Rina !!! Ga perlu
lagi manjain Rina !! “.
“Sampai kapanpun posisi Ibu Ga bisa digantiii yah!!!, Ayah
ngerti kan yah ?!!!!!” .
Mendengar Rina berkata seperti itu sang Ayah sangat
kecewa tetapi untuk menutupi rasa kekecewaannya beliau mematuhi keinginan Rina
dan meminta maaf padanya. Akan tetapi Rina tidak menanggapi permintaan maaf
dari Ayahnya dan langsung pergi menuju kamarnya.
Keesokan harinya di Sekolah berita
bahwa Ayahnya Rina adalah seoarang penyandang tunawicara tersebar keseluruh
teman temannya. Ribuan ejekan terlontar dari temannya bahwa Ayah Rina seorang
yang cacat fisiknya. Rina merasa malu dan juga kesal kepada Ayahnya. Semenjak
kejadian itu hubungan antara Rina dan Ayahnya kini semakin jauh. Begitupun
dengan teman temannya. Karena Rina telah berbohong kepada teman temannya dan
kini Rina tidak mempunyai teman lagi. Rina sangat kesal dan marah karena berkat
Ayahnya dia kini dijauhi oleh teman temannya.
Semenjak ia ketahuan berbohong oleh
teman-temannya bahwa Ayahnya adalah orang yang tunawicara, kini ia menyendiri. Merasa
tidak bisa menerima kanyataan pahitnya ia merenung sendiri di halaman depan
kelasnya. Ia memikirkan kembali sosok Ibunya yang lama telah pergi
meninggalkannya. Dengan memegang Photo Ibunya, dengan menyenderkan kepalanya ke
pohon depan kelasnya itu ia sesekali memandang ke langit sambil berkata dalam
hati.
“Ibu....., aku benci Ayah, kau tau
itu ? Aku juga membencimu”.
“Kau berbohong Padaku !!”.
“Katamu,... Aku ini anak yang Hebat
? ”.
“hmmmmm...”.
“Andai kau masih ada, Aku pasti memelukmu”.
“ Kau tau itu ? Aku Rindu”.
Kerinduan
Rina pada Ibunya tersebut membuat Rina merasa dalam, sangat dalam Rindunya. Karena
memang susah untuk melupakan sosok yang merawat kita dari kecil , sosok yang
selalu memanjakan kita itu sudah pergi meninggalkan kita. Wajar , karena semua
orang pasti akan merasakan kesedihan yang sangat dalam seperti yang Rina
rasakan saat ini.
Ditempat lain, sang Ayah sedang mempersiapkan
hadiah untuk Rina. Sebagai rasa bersalahnya atas kejadian kemarin, beliau
berencana untuk meminta maaf pada Rina sepulang sekolahnya nanti. Beliau
membeli boneka yang pernah Ibunya beri untuknya saat ulang tahun Rina yang ke
6, akan tetapi boneka tersebut telah hilang. Sang Ayah bermaksud untuk
memberinya kembali dengan uang tabungannya beliau membelli boneka yang pernah
dibelikan oleh Ibunya tersebut.
Tiba saat sepulang sekolah, tepatnya
sekitar jam 13.00 WIB dirumah Rina. Sang
Ayah bermaksud memberikan kejutan untuk Rina. Beliau sudah lama menunggunya semenjak
sepulang sekolah. Tetapi Rina tak kunjung datang. Beliau merasa khawatir, sampai pada akhirnya
ada suara bel rumahnya berbunyi. Beliau membuka pintunya dan ternyata itu bukan
Rina. Itu adalah teman sekelasnya yang memberitahukan bahwa Rina tertabrak
mobil pada saat perjalanan pulang sekolah dan sekarang Rina sedang kritis di
Rumah Sakit. Mobil yang menabraknya pergi dan sekarang masih dalam pengejaran
Polisi. Tentunya hal itu sangat membuat Ayahnya tambah khawatir. Mendengar
kejadian itu sang Ayah langsung bergegas ke Rumah Sakit.
Dengan diiringi rasa kekhawatirannya
tentang Rina Akhirnya sang Ayah tiba dirumah Sakit dan langsung bertanya pada Dokter
yang mengobati puteri semata wayangnya tersebut. Tentunya mengingat sang Ayah
adalah orang yang tunawicara ia sangat tak gampang untuk berkomunikasi atau
bertanya dengan Dokter. Dengan bahasa isyarat yang beliau berikan beliau
berusaha untuk menanyakan keadaan tentang Rina. Sempat hal ini tidak dipahami
oleh Dokter sebelum ia memberikan secarik kertas dan pena yang berada di
kantongnya dan diberikan ke Ayahnya. Akhirnya sejumlah pertanyaan dari sang Ayah
tertulis di kertas tersebut. Dokter sesegera mungkin untuk menjawab pertanyaan
sang Ayah tersebut dengan mengingat keadaan Rina yang sedang kritis yang harus
segera ditanganinya.
Pertanyaan demi pertanyaan dijawab
olehnya. Sampai selesai akhirnya Dokter berbicara tentang keadaan Rina yang
sedang mengalami masa kritis. Terdapat luka di Kepalanya yang telah
mengeluarkan banyak darah akibat dari kecelakaan yang dialami olehnya. Karena
itu Rina memerlukan banyak Darah untuk Transfusi. Sementara persediaan darah di
Rumah Sakit maupun PMI sudah habis. Satu satunya cara adalah mencari orang yang
bergolongan darah sama sebanyak-banyaknya dan ingin mendonorkannya. Tapi Hal
ini mustahil karena nyawa Rina harus segera ditolong secepatnya.
Setelah Dokter berkata demikian,
sang Ayah langsung menawarkan dirinya. Kebetulan darah mereka bergolongan sama.
Tapi tetap saja tidak bisa karena itu tidak mungkin dilakukan oleh satu
pendonor saja karena Rina sangat membutuhkan darah yang cukup banyak dalam arti
Pendonornya harus banyak juga. Hanya ada satu cara saat itu yaitu melakukan
Transfusi darah hanya dari Ayahnya, tetapi ini akan membuat si pendonor
berbahaya bahkan bisa sampai meninggal jelas Dokter kepada Ayahnya. Namun, itu
tak membuat sang Ayah khawatir akan dirinya asalkan bisa membuat anak perempuannya
itu dapat sehat kembali, bahkan sampai dia
rela mengorbankan dirinya sekalipun. Awalnya Dokter tidak mau mendengarkan
Ayahnya karena itu akan membahayakan kondisi beliau, bahkan bisa membuat beliau
meninggal. Tapi mendengar kondisi Rina yang semakin parah, ia terpaksa
melakukan keinginan Ayahnya tersebut setelah sang Ayah memaksa dirinya.
Setelah pembicaraan sang Ayah dan
Dokter beberapa saat kemudian mereka melakukan Operasi transfusi darah. Setelah
berjam-jam operasi itu dilakukan akhirnya operasi transfusi darah tersebut
selesai. Kondisi Rina pun semakin membaik akan tetapi tidak dengan sang Ayah yang
sedang dalam keadaan kritis karena terlalu banyak darah yang di transfer untuk
Rina.
Setelah beberapa hari kemudian Rina
terbangun dari masa kritisnya. Dan melihat Ayanya terbaring di kasur
sebelahnya. Dengan selang yang terhubung antara Ia dan Ayahnya. Ia bingung..
tak lama kemudian Dokter datang dan menjelaskan kepada Rina tentang transfusi
darah tersebut. Setelah Dokter bercerita tentang itu tak terasa air mata
Rinapun terjatuh sambil memandang wajah Ayahnya saat terdengar suara EKG
(eletrocardiography) berdenging. Dokter langsung membawa Ayahnya ke ruang
Operasi. Rina pada saat itu hanya bisa menangis mengingat kondisi dia yang
masih belum sembuh total.
Setelah satu jam kemudian Dokter
memberi informasi pada Rina bahwa Ayahnya tidak bisa diselamatkan. Kemudian
memberikan sepucuk surat dan kado dari Ayahnya yang dititipkan beliau sesaat
sebelum ia melakukan Operasi Transfusi Darah.
Kado itu Rina buka dan ternyata itu
adalah Boneka yang dibelikan Ayahnya untuk Permohonan Maaf padanya.Rina mulai
mengeluarkan air mata. Kemudian Rina membuka Surat yang ditulis oleh Ayahnya
untuknya.
Isi Suratnya
:
Untuk Puteri
Kesayanganku
Rina
Anakku .. Maafkan Ayah.....
Aku tak bisa
menjadi Orangtua yang baik dimatamu.
Orang tua
macam apa Ayahmu ini ???
Hmmm.... Payah Sekali .....
Tentang kejadian
itu , .. Ayah hanya ingin menggantikan Ibumu.
Karena aku sering
melihat kau merenung karenanya...
Tapi..... Aku sadar Aku tidak bisa menjadi
pengganti sosoknya.
Maafkan Ayah,
nak....
Maafkan Ayah,
nak....
Maafkan Ayah
yang salah untuk Mencintaimu.
dari Aku, Ayah Bisumu.
Terimakasih
Sudah mau membaca Cerita ini. Jangan lupa untuk Like and Share ya :*
Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar