Rabu, 11 November 2015

Maaf Dari Surga

“MAAF DARI SURGA”
                                                                             
Karya : Maulana Rieza Tasaufi, Amd.
            Ini adalah sebuah kisah fiktif kasih sayang Ayah dengan anak perempuannya yang dipersembahkan untuk masyarakat Indonesia. Kisah ini bertujuan untuk menilai seberapa jauh rasa patuh seorang anak untuk orang tua nya dalam hal ini adalah seorang Ayah. Selain seorang Ibu yang melahirkan kita, hmm tentunya kita tidak bisa melewatkan sosok yang satu ini sosok penting bagi hidup kita yaitu seorang Ayah.
            Dalam cerita kali ini saya akan menceritakan tentang seorang Kepala Keluarga yang memiliki kekurangan dalam fisiknya ( tunawicara ) yang berusaha melatih kesabaran untuk menghidupi anak dan Isterinya. Beliau berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan ditemani oleh Isterinya yang berjualan dipasar. Beliau selalu bersyukur karena bisa memiliki Istri yang menyayangi dan ikhlas menerima apapun kekurangannya.
            Tahun ke tahun mereka berdua jalani dengan susah maupun senang. Walaupun tetangganya sering memandang mereka sebelah mata, namun mereka hanya menganggap bahwa itu adalah sebuah motivasi tersendiri bagi mereka untuk menjadi orang yang lebih baik lagi kedepannya. Sampai pada akhirnya mereka berdua dikaruniai seorang anak perempuan bernama Rina. Semenjak itu mereka berdua membagi tugasnya. Sang Ibu merawat Rina dan sementara sang Ayah di Pasar untuk berjualan.
            Rina yang beranjak dewasa kini sangat akrab dengan Ibunya, namun tidak untuk Ayahnya Karena beliau harus berjualan di pasar untuk menghidupi keluarganya. Hal ini sangat wajar karena ia diasuh dan dibesarkan oleh Ibunya semenjak ia masih kecil.
            Segala sesuatu kebutuhannya ia hanya bercerita kepada Ibunya, baik dari kebutuhan rumah sampai kebutuhan sekolahnya. Dalam hal ini Ibunya terlalu memanjakan Rina. Segala sesuatu yang Rina inginkan pasti dituruti Ibunya, bahkan sampai harus berkorban untuk meminjam uang tetangga tanpa sepengetahuan Rina dan Suaminya, mengingat mereka berdua adalah keluarga yang paspasan tentunya hal ini sangat berlebihan menurut pendapatku. Hal ini tak lepas karena Rina adalah anak semata wayangnya.
            Melihat keakraban Rina dengan Ibunya. Sang Ayah sangat senang sekaligus iri pada mereka berdua. Karena beliau tidak bisa dekat dengan puterinya. Akan tetapi demi menjalin hubungan yang harmonis beliau berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Rina. Namun usahanya kurang direspon karena Rina malu jika sampai diketahui  oleh teman-temannya bahwa Ayahnya adalah penyandang  tunawicara. Ini adalah faktor traumatik bagi Rina karena semasa kecilnya ia sering diolok-olok oleh temanya karena Ayahnya adalah seorang yang memiliki kekurangan ( tunawicara ). Bahkan berbicara dengannya, mungkin berpaspasan didepan umum saja Rina sangat malu. Oleh latar belakang itu Rina melarang Ayahnya untuk bertemu didepan umum dengannya.
 Tahun demi tahun mereka lewati dan tak terasa Rina kini sudah memasuki Sekolah Menengah Pertama. Dihadapan teman-temannya, ia selalu menutupi bahwa Ayahnya adalah seorang tunawicara. Hal itu dilakukannya agar ia tidak dijauhi dan diolok-olok oleh temannya. Sampai pada suatu hari Ibunya pergi meninggalkan Rina. Hal itu membuat Rina dan Ayahnya merasa sangat terpukul. Dan ini menjadi PR besar buat Sang Ayah untuk bisa menenangkan Rina.
            Hari ke hari, minggu ke minggu mereka berdua lalui akan tetapi Rina masih belum menerima kematian Ibunya tersebut, mengingat Ibunya adalah orang yang selalu memanjakannya. Sang Ayah yang melihat Rina sangat sangat tepukul karena kematian Ibunya kini mencoba untuk memanjakannya seperti yang dilakukan Ibunya terhadap Rina. Usaha demi usaha beliau jalani tetapi itu tidak membawa kabar baik untuk hubungan antara beliau dan Rina. Sampai pada akhirnya beliau tidak berjualan dipasar demi menjemput puteri kesayangannya ke Sekolah. Tetapi Rina mengacuhkan usaha Ayahnya yang rela menjemputnya sepulang Sekolah. Hal ini dilakukan karena Rina tidak ingin teman-temannya mengetahui bahwa Ayahnya adalah seorang tunawicara.
            Pada saat dirumah sepulangnya dari sekolah Rina memarahi Ayahnya agar tidak menemuinya saat ia berada di tempat umum karena ia malu jika teman-teman akan mengejeknya nanti.
            “Ayah ini melakukan apaaa !!? Ayah mau buat Rina malu !!! “.
“Mulaii sekarang Ayah ga perlu lagi jemput Rina !!! Ga perlu lagi manjain Rina !! “.
“Sampai kapanpun posisi Ibu Ga bisa digantiii yah!!!, Ayah ngerti kan yah ?!!!!!” .
 Mendengar Rina berkata seperti itu sang Ayah sangat kecewa tetapi untuk menutupi rasa kekecewaannya beliau mematuhi keinginan Rina dan meminta maaf padanya. Akan tetapi Rina tidak menanggapi permintaan maaf dari Ayahnya dan langsung pergi menuju kamarnya.
            Keesokan harinya di Sekolah berita bahwa Ayahnya Rina adalah seoarang penyandang tunawicara tersebar keseluruh teman temannya. Ribuan ejekan terlontar dari temannya bahwa Ayah Rina seorang yang cacat fisiknya. Rina merasa malu dan juga kesal kepada Ayahnya. Semenjak kejadian itu hubungan antara Rina dan Ayahnya kini semakin jauh. Begitupun dengan teman temannya. Karena Rina telah berbohong kepada teman temannya dan kini Rina tidak mempunyai teman lagi. Rina sangat kesal dan marah karena berkat Ayahnya dia kini dijauhi oleh teman temannya.
            Semenjak ia ketahuan berbohong oleh teman-temannya bahwa Ayahnya adalah orang yang tunawicara, kini ia menyendiri. Merasa tidak bisa menerima kanyataan pahitnya ia merenung sendiri di halaman depan kelasnya. Ia memikirkan kembali sosok Ibunya yang lama telah pergi meninggalkannya. Dengan memegang Photo Ibunya, dengan menyenderkan kepalanya ke pohon depan kelasnya itu ia sesekali memandang ke langit sambil berkata dalam hati.
            “Ibu....., aku benci Ayah, kau tau itu ? Aku juga membencimu”.
            “Kau berbohong Padaku !!”.
            “Katamu,... Aku ini anak yang Hebat ? ”.
            “hmmmmm...”.
            “Andai kau masih ada,  Aku pasti memelukmu”.
            “ Kau tau itu ? Aku Rindu”.
Kerinduan Rina pada Ibunya tersebut membuat Rina merasa dalam, sangat dalam Rindunya. Karena memang susah untuk melupakan sosok yang merawat kita dari kecil , sosok yang selalu memanjakan kita itu sudah pergi meninggalkan kita. Wajar , karena semua orang pasti akan merasakan kesedihan yang sangat dalam seperti yang Rina rasakan saat ini.
             Ditempat lain, sang Ayah sedang mempersiapkan hadiah untuk Rina. Sebagai rasa bersalahnya atas kejadian kemarin, beliau berencana untuk meminta maaf pada Rina sepulang sekolahnya nanti. Beliau membeli boneka yang pernah Ibunya beri untuknya saat ulang tahun Rina yang ke 6, akan tetapi boneka tersebut telah hilang. Sang Ayah bermaksud untuk memberinya kembali dengan uang tabungannya beliau membelli boneka yang pernah dibelikan oleh Ibunya tersebut.
            Tiba saat sepulang sekolah, tepatnya sekitar jam 13.00 WIB  dirumah Rina. Sang Ayah bermaksud memberikan kejutan untuk Rina. Beliau sudah lama menunggunya semenjak sepulang sekolah. Tetapi Rina tak kunjung datang.  Beliau merasa khawatir, sampai pada akhirnya ada suara bel rumahnya berbunyi. Beliau membuka pintunya dan ternyata itu bukan Rina. Itu adalah teman sekelasnya yang memberitahukan bahwa Rina tertabrak mobil pada saat perjalanan pulang sekolah dan sekarang Rina sedang kritis di Rumah Sakit. Mobil yang menabraknya pergi dan sekarang masih dalam pengejaran Polisi. Tentunya hal itu sangat membuat Ayahnya tambah khawatir. Mendengar kejadian itu sang Ayah langsung bergegas ke Rumah Sakit.
            Dengan diiringi rasa kekhawatirannya tentang Rina Akhirnya sang Ayah tiba dirumah Sakit dan langsung bertanya pada Dokter yang mengobati puteri semata wayangnya tersebut. Tentunya mengingat sang Ayah adalah orang yang tunawicara ia sangat tak gampang untuk berkomunikasi atau bertanya dengan Dokter. Dengan bahasa isyarat yang beliau berikan beliau berusaha untuk menanyakan keadaan tentang Rina. Sempat hal ini tidak dipahami oleh Dokter sebelum ia memberikan secarik kertas dan pena yang berada di kantongnya dan diberikan ke Ayahnya. Akhirnya sejumlah pertanyaan dari sang Ayah tertulis di kertas tersebut. Dokter sesegera mungkin untuk menjawab pertanyaan sang Ayah tersebut dengan mengingat keadaan Rina yang sedang kritis yang harus segera ditanganinya.
            Pertanyaan demi pertanyaan dijawab olehnya. Sampai selesai akhirnya Dokter berbicara tentang keadaan Rina yang sedang mengalami masa kritis. Terdapat luka di Kepalanya yang telah mengeluarkan banyak darah akibat dari kecelakaan yang dialami olehnya. Karena itu Rina memerlukan banyak Darah untuk Transfusi. Sementara persediaan darah di Rumah Sakit maupun PMI sudah habis. Satu satunya cara adalah mencari orang yang bergolongan darah sama sebanyak-banyaknya dan ingin mendonorkannya. Tapi Hal ini mustahil karena nyawa Rina harus segera ditolong secepatnya.
            Setelah Dokter berkata demikian, sang Ayah langsung menawarkan dirinya. Kebetulan darah mereka bergolongan sama. Tapi tetap saja tidak bisa karena itu tidak mungkin dilakukan oleh satu pendonor saja karena Rina sangat membutuhkan darah yang cukup banyak dalam arti Pendonornya harus banyak juga. Hanya ada satu cara saat itu yaitu melakukan Transfusi darah hanya dari Ayahnya, tetapi ini akan membuat si pendonor berbahaya bahkan bisa sampai meninggal jelas Dokter kepada Ayahnya. Namun, itu tak membuat sang Ayah khawatir akan dirinya asalkan bisa membuat anak perempuannya itu dapat  sehat kembali, bahkan sampai dia rela mengorbankan dirinya sekalipun. Awalnya Dokter tidak mau mendengarkan Ayahnya karena itu akan membahayakan kondisi beliau, bahkan bisa membuat beliau meninggal. Tapi mendengar kondisi Rina yang semakin parah, ia terpaksa melakukan keinginan Ayahnya tersebut setelah sang Ayah memaksa dirinya.
            Setelah pembicaraan sang Ayah dan Dokter beberapa saat kemudian mereka melakukan Operasi transfusi darah. Setelah berjam-jam operasi itu dilakukan akhirnya operasi transfusi darah tersebut selesai. Kondisi Rina pun semakin membaik akan tetapi tidak dengan sang Ayah yang sedang dalam keadaan kritis karena terlalu banyak darah yang di transfer untuk Rina.
            Setelah beberapa hari kemudian Rina terbangun dari masa kritisnya. Dan melihat Ayanya terbaring di kasur sebelahnya. Dengan selang yang terhubung antara Ia dan Ayahnya. Ia bingung.. tak lama kemudian Dokter datang dan menjelaskan kepada Rina tentang transfusi darah tersebut. Setelah Dokter bercerita tentang itu tak terasa air mata Rinapun terjatuh sambil memandang wajah Ayahnya saat terdengar suara EKG (eletrocardiography) berdenging. Dokter langsung membawa Ayahnya ke ruang Operasi. Rina pada saat itu hanya bisa menangis mengingat kondisi dia yang masih belum sembuh total.
            Setelah satu jam kemudian Dokter memberi informasi pada Rina bahwa Ayahnya tidak bisa diselamatkan. Kemudian memberikan sepucuk surat dan kado dari Ayahnya yang dititipkan beliau sesaat sebelum ia melakukan Operasi Transfusi Darah.
            Kado itu Rina buka dan ternyata itu adalah Boneka yang dibelikan Ayahnya untuk Permohonan Maaf padanya.Rina mulai mengeluarkan air mata. Kemudian Rina membuka Surat yang ditulis oleh Ayahnya untuknya. 
Isi Suratnya :
Untuk Puteri Kesayanganku
Rina

            Anakku ..  Maafkan Ayah.....
Aku tak bisa menjadi Orangtua yang baik dimatamu.
Orang tua macam apa Ayahmu ini ???
 Hmmm.... Payah Sekali .....
Tentang kejadian itu , .. Ayah hanya ingin menggantikan Ibumu.
Karena aku sering melihat kau merenung karenanya...
 Tapi..... Aku sadar Aku tidak bisa menjadi pengganti sosoknya.
Maafkan Ayah, nak....
Maafkan Ayah, nak....
Maafkan Ayah yang salah untuk Mencintaimu.

            dari Aku, Ayah Bisumu.

Terimakasih Sudah mau membaca Cerita ini. Jangan lupa untuk Like and Share ya :*

Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar